Minggu, 15 Juni 2008

warta bahagia

Haryanti dan Gatot

WARTA BAHAGIA

Kisah Nyata Gatot & Haryanti
IMPIAN DELAPAN TAHUN SILAM AKHIRNYA TERWUJUD

Di sebuah rumah yang berada persis di pinggir jalan tepatnya di Jlatren, Jogotirto, Berbah, Sleman tinggallah pasangan Gatot Wisnu Jaka dan Haryanti. Setahun usia pernikahan mereka belum juga dikaruniai seorang putra. “Padahal biasanya kan setahun menikah sudah isi,” tutur Haryanti. Haryanti pun mulai cemas. Maka diputuskan untuk cek medis di salah satu rumah sakit terdekat.
Hasil pemeriksaan medis menyatakan bahwa dari segi hormonal suami kurang sedikit namun masih berkesempatan untuk dapat memiliki keturunan. Dokter pun memberikan obat yang bisa ditebus dengan harga satu juta rupiah setiap bulannya. “Setelah tiga bulan rutin menegak pil tersebut, akhirnya saya hentikan. Sebab disamping hasil yang tidak memuaskan, harga obat pun terlalu mahal. Lantas kami mulai beralih ke pengobatan alternatif,” ungkap Gatot.
“Setiap tahun kami berpindah dari satu tempat alternatif ke tempat yang lain. Ada yang dengan dipijat bahkan ada yang harus mencari syarat tertentu seperti mencari tumbuhan yang sangat sulit didapat. Tak terasa perjuangan kami telah berjalan delapan tahun lamanya. Demi impian untuk dapat memiliki momongan, semua harta benda pun telah kami kuras habis. Bagi kami, apalah arti harta benda jika tanpa keturunan? Dan setelah titik darah penghabisan, harapan terakhir kami gantungkan pada Paguyuban Tri Tunggal yang didirikan oleh Satguru Romo Sapto,” sambung ibu rumah tangga yang sekaligus dokter gigi ini.
Menurut Gatot, informasi akan keberadaan Paguyuban Tri Tunggal diketahuinya dari siaran live di televisi serta diperkuat dengan adanya artikel dan kesaksian dari para mantan pasien yang termuat di berbagai media massa. “Kesaksian mantan pasiennya-lah yang membuat keyakinan kami semakin tebal. Maka kami bulatkan tekad untuk datang ke Paguyuban Tri Tunggal dan sesuai saran dari Kangmas Jeje kami ambil langkah terbaik dengan mengikuti ruwatan. Kami sepakat Paguyuban Tri Tunggal merupakan jalan terakhir,” ungkapnya.
“Meski ada yang bilang bahwa ruwatan itu musyrik, kebulatan tekad kami tak tergoyahkan. Toh pada kenyataannya, ketika prosesi ruwatan berlangsung kami diminta untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Dan hasil akhirnya kami justru merasa lebih dekat dengan Tuhan. Hati lebih tenang, tentram, damai, dalam mengerjakan apa pun tidak kemrungsung (tergesa-gesa), tidak ngoyo bahkan sholat pun sekarang justru lebih rutin dan tidak bolong seperti sebelumnya,” imbuhnya sambil tertawa.“Alhamdullillah setelah delapan tahun sejak pernikahan kami, setelah diruwat kami diberi momongan ganteng yang kami beri nama Gama Pamenang Jati. Pada tanggal 7 April tahun 2008 ini usia anak saya genap setahun. Bocahnya aktif dan sudah pintar bicara. Matur nuwun Satguru Romo Sapto dan Kangmas Jeje,” tutur Gatot dan Haryanti yang bisa dihubungi di (0274) 4398329 atau 081328730490.

Tidak ada komentar: