Senin, 16 Juni 2008

RUWAT AGUNG SUKERTO
Bersama Sat Guru Sabdo Langit IV, DR. Sapto Raharjo, SiP

Wangi dupa cendana, kemenyan dan aroma terapi berbaur jadi satu. Asap dari anglo membara membubung ke langit. Pencar cahaya menyerupai api lilin di beberapa sudut pendopo Paguyuban Tri Tunggal menciptakan getar gaib menuju sunyi sakral tanpa batas. Saat itu, menandai Ruwat Sial Apes yang digelar di malam Selasa Kliwon (13/12) dimulai. Alam membisu, mantra pun segera bergema dari hati para sukerto yang siap diruwat.
Memang, malam selasa kliwon kemarin pendopo Paguyuban Tri Tunggal terasa lebih sakral dari biasanya. Hikmatnya para sukerto dalam mengikuti ruwatan menambah keheningan malam itu. Di puncak keheningan malam itu, ratusan peserta ruwat berbaring., dan dari kepala hingga ujung kaki segera diselubungi kain mori dan kain jarik.
Saat itulah puncak dimensi ruwat yang sesungguhnya dimulai. Beriring dengan lantunan mantra dan do’a yang dilantunkan oleh Sat Guru DR. Sapto Raharjo, SiP, tubuh-tubuh tertutup kain yang sedang menyatu dengan bumi itu ditaburi bunga. Seiring dengan lantunan do’a padusaning kala, para punggawa ruwat segera menyiramkan air pembersihan dari dalam kendi. Dan ruwat berakhir setelah Kidung Megatruh dan Panjang Ilang mengalun.
Setelah itu, penutup mori dibuka sembari diwejang untuk menjalankan lima perkara : tulus ikhlas, rela pasrah, narimo sak madyo, temen kang jati, dan budi luhur dalam setiap perkataan dan perbuatan.
Begitu pula dengan Ruwat Agung Sukerto. Dalam tradisi Kejawen, ritual ruwat memuat penghayatan terhadap eksistensi manusia di dunia beserta segala alam mikro kosmis yang ada di tubuh manusia. Dalam ritual ruwat sejatinya adalah untuk mengungkapkan tentang purwaning dumadi atau asal mula kehidupan.
Ruwat Agung Sukerto merupakan jalan keselamatan yang ditempuh Betara Wisnu yang menjelma menjadi Dalang Kanda Buwana. Secara simbolis, kehadirannya di dunia untuk memayu hayuning bawana (memelihara kesejahteraan dunia) dengan mengajarkan kawruh sejatining urip. Sehingga manusia dapat membebaskan diri dari pengaruh jahat Betara Kala di segala dimensi kehidupan.
Seperti dituturkan oleh Mas Sapto, kisah Betara Kala diruwat itu bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada peserta ruwat tentang hakekat hidup serta memahami asal mula kehidupan. Sedangkan esensi yang lebih penting adalah agar peserta ruwat memahami apa yang menjadi penyebab sial apes dan sengkalanya masing-masing. Di dalam realitas kehidupan, lubang-lubang hawa nafsu itu, jika manusia tidak mampu menguasai dan mengendalikannya, maka terjadilah karma kala atau hukum sebab akibat yaitu manusia akan sial dan apes secara berkepanjangan.
Ruwat Agung Sukerto itu esensinya adalah hawa nafsu manusia yang dimohonkan ampun dan dibersihkan dari noda, serta disenyawakan ke dalam alam makro dan mikronya. Pada dimensi itu, beberapa golongan orang yang perlu diruwat diantaranya :
· Ruwat Orang-Orang Sukerto
Ontang-anting, anak tunggal lelaki. Anting-unting, anak tunggal perempuan. Uger-uger lawang, dua anak lelaki semua. Kembang sepasang, dua anak perempuan semua. Gedhana-gedhini, dua anak lelaki dan perempuan yang tua si lelaki. Gedhini-gedhana, dua anak lelaki dan perempuan yang tua si perempuan. Pendhawa, lima anak lelaki semua. Pendhawa Ngayomi, lima anak perempuan semua. Pendhawa madhangake, lima anak, empat lelaki dan seorang perempuan. Pendhawa apil-apil, lima anak, empat perempuan dan seorang lelaki. Bathang angucap, orang berjalan sendiri diwaktu tengah hari, tanpa bersumping daun, tidak berdendang dan tidak makan sirih. Ontang-anting lumunting tunggaking aren, orang yang tak ada saudaranya sejak lahir, ditengah-tengah dua alisnya terdapat titik putih, sedang mukanya pucat pasi.
· Ruwat Penyembuhan
Segala bentuk derita sakit fisik (tubuh) dan non fisik (jiwa pikiran) adala sengkolo. Ruwat ini berfungsi sebagai pembebasan sengkolo tubuh fisik dan non fisik agar orang yang menderita sengkolo sakit dapat terbebaskan dari deritanya. Contoh sengkolo non fisik seperti stress, depresi atau segala bentuk gangguan kejiwaan. Sedangkan sengkolo fisik yaitu seseorang yang menyandang sengkolo berupa penyakit atau rasa sakit yang diakibatkan jasil perilaku seseorang yang sering disebut karmasala atau sebab akibat. Ruwat buang sengkolo ini memiliki daya yang mampu menyembuhkan segala derita secara langsung maupun bertahap, seperti penyakit tumor, kanker, ginjal, jantung, lever, stroke, kelumpuhan, kebutaan dll.
· Ruwat Wibawa
Agar dihormati dan mendapat simpati anak buah. Mendapat simpati pimpinan agar lancar karier, seperti pangkat, kedudukan dan jabatan. Menumbuhkan kepercayaan diri Character Building/Performance. Pengasihan bagi sesama (mudah mendapat simpati di khalayak umum).
· Ruwat Dagang / Bisnis
Ditujukan untuk penglarisan / bagi kelancaran usaha dagang dan jasa. Ruwatan ini cocok bagi wirausaha kecil atau besar yang sedang mengalami sengkolo kesulitan usaha ataupun bagi wirausaha yang ingin tetap mempertahankan usahanya.
· Ruwat Pengapesan
Ruwat buang sengkolo ini mampu mensenyawakan unsur nawa sanga dan bala sewu seeorang agar seseorang tidak terikat sengkolo nasib yang selalu sial dan apes
· Ruwat Pagar Gaib / Keselamatan
Ruwat ini mampu memberikan pengisian dan penggemblengan gaib bagi seseorang yang membutuhkan keselamatan diri, keluarga dan tempat usaha.

Minggu, 15 Juni 2008

warta bahagia

Haryanti dan Gatot

WARTA BAHAGIA

Kisah Nyata Gatot & Haryanti
IMPIAN DELAPAN TAHUN SILAM AKHIRNYA TERWUJUD

Di sebuah rumah yang berada persis di pinggir jalan tepatnya di Jlatren, Jogotirto, Berbah, Sleman tinggallah pasangan Gatot Wisnu Jaka dan Haryanti. Setahun usia pernikahan mereka belum juga dikaruniai seorang putra. “Padahal biasanya kan setahun menikah sudah isi,” tutur Haryanti. Haryanti pun mulai cemas. Maka diputuskan untuk cek medis di salah satu rumah sakit terdekat.
Hasil pemeriksaan medis menyatakan bahwa dari segi hormonal suami kurang sedikit namun masih berkesempatan untuk dapat memiliki keturunan. Dokter pun memberikan obat yang bisa ditebus dengan harga satu juta rupiah setiap bulannya. “Setelah tiga bulan rutin menegak pil tersebut, akhirnya saya hentikan. Sebab disamping hasil yang tidak memuaskan, harga obat pun terlalu mahal. Lantas kami mulai beralih ke pengobatan alternatif,” ungkap Gatot.
“Setiap tahun kami berpindah dari satu tempat alternatif ke tempat yang lain. Ada yang dengan dipijat bahkan ada yang harus mencari syarat tertentu seperti mencari tumbuhan yang sangat sulit didapat. Tak terasa perjuangan kami telah berjalan delapan tahun lamanya. Demi impian untuk dapat memiliki momongan, semua harta benda pun telah kami kuras habis. Bagi kami, apalah arti harta benda jika tanpa keturunan? Dan setelah titik darah penghabisan, harapan terakhir kami gantungkan pada Paguyuban Tri Tunggal yang didirikan oleh Satguru Romo Sapto,” sambung ibu rumah tangga yang sekaligus dokter gigi ini.
Menurut Gatot, informasi akan keberadaan Paguyuban Tri Tunggal diketahuinya dari siaran live di televisi serta diperkuat dengan adanya artikel dan kesaksian dari para mantan pasien yang termuat di berbagai media massa. “Kesaksian mantan pasiennya-lah yang membuat keyakinan kami semakin tebal. Maka kami bulatkan tekad untuk datang ke Paguyuban Tri Tunggal dan sesuai saran dari Kangmas Jeje kami ambil langkah terbaik dengan mengikuti ruwatan. Kami sepakat Paguyuban Tri Tunggal merupakan jalan terakhir,” ungkapnya.
“Meski ada yang bilang bahwa ruwatan itu musyrik, kebulatan tekad kami tak tergoyahkan. Toh pada kenyataannya, ketika prosesi ruwatan berlangsung kami diminta untuk berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Dan hasil akhirnya kami justru merasa lebih dekat dengan Tuhan. Hati lebih tenang, tentram, damai, dalam mengerjakan apa pun tidak kemrungsung (tergesa-gesa), tidak ngoyo bahkan sholat pun sekarang justru lebih rutin dan tidak bolong seperti sebelumnya,” imbuhnya sambil tertawa.“Alhamdullillah setelah delapan tahun sejak pernikahan kami, setelah diruwat kami diberi momongan ganteng yang kami beri nama Gama Pamenang Jati. Pada tanggal 7 April tahun 2008 ini usia anak saya genap setahun. Bocahnya aktif dan sudah pintar bicara. Matur nuwun Satguru Romo Sapto dan Kangmas Jeje,” tutur Gatot dan Haryanti yang bisa dihubungi di (0274) 4398329 atau 081328730490.

Yusuf mantan Pecandu Narkoba


Kisah Yusuf Mantan Pecandu Narkoba Selamat dari Kematian
DIVONIS DOKTER, HARAPAN HIDUP TINGGAL 5 PERSEN

Apa yang dialami oleh Yusuf (27) yang tinggal di Jl. Adisucipto Bantulan DP II 169 Janti Depok Sleman ini sungguh merupakan suatu keajaiban dari sang pencipta. Betapa tidak, hingga kini ia masih diberi kesempatan menikmati hidup di dunia, padahal dokter telah memvonis hidupnya hanya tinggal 5 persen saja. Inilah secuil kisah pengalaman itu.

“Penderitaanku berawal dari kesalahan yang tidak bisa menjaga diri sendiri dan salah dalam pergaulan, hingga pada akhirnya menyeretku ke dalam lembah hitam. Di usia yang waktu itu baru 17 tahun, aku bergaul dengan teman-teman yang nongkrong di pinggir-pinggir jalan. Mereka kemudian memberiku minuman keras dan memaksaku untuk turut meminumnya. Hanya karena tidak enak dengan teman, akhirnya aku pun menuruti permintaan mereka dengan meneguk segelas minuman keras itu.
Pada tahun 1998 aku mulai mengenal narkoba dan mencoba memakainya, walau hanya kelas ringan seperti pil koplo, ganja, dll. Memang kuakui, setiap memakai barang-barang tersebut, aku merasa enak, enjoy, nge-fly, nyaman dan hidup terasa indah sehingga aku menjadi ketagihan untuk terus memakainya.
Makin lama, aku mulai mudah mendapatkan barang haram yang bisa dikatakan kelas tinggi seperti sabu-sabu, heroin, putaw, dll. Berbagai jenis pun mulai kucoba dan pada akhirnya kebiasaan itu membuatku menjadi seorang pecandu narkoba. Ketika itu aku benar-benar merasakan nikmatnya surga duniawi. Hingga tak terasa 6 tahun sudah aku menjadi seorang pecandu.
Sebelumnya, tak terpikir bahwa kebiasaan burukku itu akan dapat merusak seluruh jiwa ragaku dan aku pun tidak menyadari bahwa semua itu akan berakibat fatal. Yang kurasakan saat itu adalah aku merasa menjadi manusia hebat, yang sebenarnya hal itu adalah pengaruh dari narkoba yang kukonsumsi saja. Selama memakai narkoba, banyak pengalaman pahit yang aku dapatkan dan sampai sekarang pun masih terbayang-bayang jelas dalam ingatan yaitu ketika banyak dari teman akrabku yang meninggal karena overdosis.
Saat itu aku benar-benar merasa kehilangan akan tetapi hal itu justru membuat kecintaanku terhadap narkoba semakin erat. Ketika sehari tidak mengkonsumsi narkoba, aku justru merasa sesuatu yang sangat berarti hilang dalam hidupku. Pada tahun 2002, ketergantunganku terhadap narkoba semakin menjadi. Sehari saja tidak mengkonsumsi, tubuh langsung terasa lemas dan malas, membaca tidak konsentrasi dan aku merasa perubahan dari pribadi, sikap dan cara berpikirku. Pada tahun 2003, ternyata aku kembali kehilangan kekasih (yang juga pemakai heroin), yang kemudian disusul meninggalnya seorang teman dekat yang juga karena overdosis. Baru aku sadar, ternyata obat-obatan itu sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawaku kapan saja. Akupun mulai sadar akan kecerobohanku selama ini dan timbul niat untuk meninggalkan dunia hitam yang selama ini kujalani karena gara-gara narkoba, hubunganku dengan keluarga terutama orang tua dan teman menjadi renggang. Bahkan aku pun merasa jauh, amat jauh dari Tuhan. Namun rupanya untuk keluar dari dunia hitam itu bukanlah hal yang mudah karena aku sudah sangat ketergantungan dengan narkoba.
Hingga pada akhirnya, di tahun 2004, tepatnya bulan Juni – Juli, aku jatuh sakit. Kejadian itu berawal ketika aku main di tempat temanku. Sekitar pukul 06.45, aku datang ke rumah salah seorang teman dan di sana kami bermaksud memakai heroin yang aku bawa. Setelah menikmati heroin itu, kami bercanda dan tertawa. Namun tiba-tiba aku merasa tubuhku melemah dan tidak berdaya.
Baru pada pukul 15.00 aku memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah aku kembali memakai heroin. Saat itu aku langsung panas dingin. Nafas pendek dan didera rasa ketakutan yang begitu hebat. Beruntung saat itu, Ibu masuk ke kamar. Mengetahui kondisiku yang pucat pasi, ibu langsung membawaku ke rumah sakit.
Tiada pilihan lain aku harus opname. Hingga sebulan lamanya. Sewaktu opname aku selalu muntah-muntah. Badan menggigil kedinginan. Bahkan 3 – 5 selimut tak mampu menghilangkan rasa dingin di tubuhku. Dokter mengatakan bahwa aku menderita leukosit (kelainan pada darah), sepsis juga liver. Kepada keluarga, dokter kembali mengatakan jika harapan hidupku hanya tinggal sepenggal. Tinggal lima persen. Hal itu juga diperkuat dengan meninggalnya 4 pasien dengan penyakit yang sama, yang juga dirawat satu ruangan denganku.
Benar adanya, penyesalan selalu datang terlambat. Aku baru sadar aku telah merusak diri sendiri dan masa depanku. Tapi apa mau dikata, aku pun hanya bisa pasrah dengan apa yang menanti esok hati. Kematian!
Entah apa yang dipikirkan ibu, esok harinya ibu datang ke rumah sakit dengan membawakan masakan daging bulus. Ibu berkata bahwa masakan ini dari Romo Sapto. Tanpa pikir panjang dan tanpa banyak pertanyaan, langsung kusantap habis daging bulus itu. Sejak itu, badan terasa segar dan enak. Kecemasanku hilang. Dalam tempo dua hari sejak itu aku diperbolehkan pulang. Dalam hati aku bertanya, apakah ajal ku sudah dekat sehingga pihak rumah sakit memulangkan aku?
Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Dari hari ke hari badanku makin bugar. Kesakitan di seluruh jaringan tubuhku lenyap. Lantas baru aku ingat, kondisi ku membaik setelah memakan daging bulus dari Romo Sapto. Aku pun mulai bertanya-tanya, siapa Romo Sapto? Akhirnya aku dapat informasi, bahwa Romo Sapto adalah Satguru Paguyuban Tri Tunggal. Dan menurut cerita ibu, tanpa sepengetahuanku sebelumnya ibu datang ke Paguyuban Tri Tunggal dan dengan selembar fotoku dilakukan transfer penyakit ke kambing oleh Kangmas Jeje.
Setelah kondisiku normal lagi, aku datang ke Paguyuban Tri Tunggal untuk bersilaturahmi dan tentunya mengucapkan terima kasih. Di Paguyuban Tri Tunggal aku bertemu dengan Kangmas Jeje, salah satu orang kepercayaan Romo Sapto yang mumpuni.
Sejak itu, aku insyaf dan sadar ternyata Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Pengampun. Dalam hati timbul niatan untuk kembali ke jalan yang benar. Maka saya pasrahkan diri mengabdi pada masyarakat dengan bergabung dengan Paguyuban Tri Tunggal. Terima kasih Satguru Romo Sapto, Kangmas Jeje dan keluarga besar Payuban Tri Tunggal. Apabila para pembaca ingin mendengar langsung kebenaran pengalaman pahit masa laluku, silahkan menghubungiku di 085868383666. (*)

Kesembuhan dari Semarang

KESAKSIAN KESEMBUHAN
PAGUYUBAN TRI TUNGGAL CABANG SEMARANG

Semua Adalah Mukjizat dari Allah
Di USG, kista berdiameter 10 cm hilang

Selama lebih dari sebelas tahun saya berjuang demi kesembuhan kista yang saya derita. Dokter menyarankan agar kista yang berdiameter 10 cm ini untuk dioperasi. Namun melihat fisik serta usia, akhirnya saya memilih menjalani pengobatan alternatif. Selama empat tahun saya rutin menjalani penyedotan semacam cairan berupa darah. Selain itu pernah juga transfer penyakit ke telur. Akan tetapi perjuangan saya serasa sia-sia. Sebab kesembuhan yang saya rasakan hanyalah bersifat sementara. Semua pengobatan alternatif tidak ada yang sanggup menuntaskan kista yang saya derita. Saya benar-benar putus asa.
Namun entah mengapa, begitu mengetahui keberadaan Paguyuban Tri Tunggal tergerak hati untuk datang kesana. Jarak Demak – Pudak Payung pun saya tempuh meski dengan jalan masih terbungkuk-bungkuk karena sakit di perut bagian bawah. Saya nekad ke Paguyuban Tri Tunggal karena saya yakin akan mendapat pertolongan.
Alhamdulillah berkat ridho Allah, dengan terapi dan pemindahan penyakit ke kambing akhirnya kista dan maag berangsur sembuh. Hasil pemeriksaan USG dinyatakan hilang dan membuat dokter terkejut. “Wah keren bisa hilang, dibawa kemana bu?” kata dokter. Saya bersyukur karena semua adalah mukjizat dari Allah dengan perantara Paguyuban Tri Tunggal. Setelah mengikuti ruwatan pun kehidupan saya menjadi lebih baik dan usaha yang saya rintis berjalan lancar.
Terima kasih Dimas Endri, Dimas Cecep dan Dimas Ponco yang selama ini membantu saya menjadi lebih sehat. Semoga Paguyuban Tri Tunggal semakin jaya. Amien. (*)

IDA NURHAYATI (43)
Jl. Tanjung I C 2 / 25 Katonsari, Demak
08179543256

Batu Ginjal, Infeksi Saluran Kencing & Radang Paru-Paru Tuntas Ditransfer

Saya sudah hampir putus asa karena berkali-kali mendatangi tempat pengobatan alternatif penyakit belum juga sembuh. Menurut dokter ada batu di ginjal saya yang menyebabkan infeksi di saluran seni. Dokter juga menyatakan bahwa saya mengidap radang paru-paru.
Berbekal informasi dan bukti nyata dari bu Muti'ah (tetangga) saya pun mencoba datang ke Paguyuban Tri Tunggal. Dan alhamdulillah, dua kali terapi rasa sakit banyak sekali berkurang. Agar tuntas saya pun menjalani transfer penyakit ke kambing. Benar saja, semua penyakit saya tuntas. Terima kasih Dimas Endri dan Paguyuban Tri Tunggal. Apabila anda menderita penyakit yang tidak kunjung sembuh, silahkan datang ke Paguyuban Tri Tunggal. Saya berani bicara karena sudah membuktikan hasilnya. (*)
KARYATI (30)
Kalirejo RT 6 / 1, kangkung, Kendal
081 390 300075

Bisa Jalan Sekaligus Mendapat Keluarga Baru

Beberapa waktu terakhir saya tidak bisa berjalan karena penyakit asam urat dan gangguan fungsi ginjal. Kami sekeluarga sudah hampir patah semangat karena usaha berobat kemana pun belum membawa hasil. Terakhir saya datang ke Paguyuban Tri Tunggal. Ternyata benar-benar manjur, dua kali terapi saya langsung bisa berjalan. Bahkan setelah itu rutin jalan pagi di lingkungan. Ternyata kondisi saya menjadi pertanyaan tetangga-tetangga kemana saya ngupoyo kesembuhan hingga saya bisa berjalan dan kelihatan lebih sehat. Akhirnya setiap saya ke Paguyuban Tri Tunggal, membawa rombongan dari Kalirejo. Saat ini kami dari Kalirejo merasa mendapat keluarga baru di Paguyuban Tri Tunggal Cabang Semarang. Terima kasih Dimas Endri. (*)

MUTI'AH (65)
Kalirejo RT 6 / I, Kangkung, Kendal
081 390 300075

Buktikan Penyembuhan Langsung Maupun Secara Jarak Jauh

Setahun belakangan ini saya memiliki masalah dengan lambung. Dan menurunnya kondisi tubuh ini menyebabkan saya sering pingsan terutama jika berada di tengah keramaian. Dari tetangga saya mendengar kabar tentang Paguyuban Tri Tunggal. Akhirnya saya menjalani terapi dan transfer penyakit ke kelinci.
Sekarang saya tidak perlu khawatir lagi akan pingsan di keramaian dan suami pun terkejut melihat saya segar bugar meski beraktivitas seharian. Alhamdulillah, tahun ini saya dapat jalankan ibadah puasa. Terakhir, saya mengikuti ruwatan dan suami diruwat secara jarak jauh dengan menggunakan selembar foto. Alhamdullillah kini rejeki suami pun semakin lancar.
Selain suami, paman saya pun pernah menjalani transfer penyakit ke kambing secara jarak jauh. Ketika itu paman opname di rumah sakit karena penyakit ginjal kronis. Dokter sudah angkat tangan karena penyakit paman memang sudah sangat parah. Syukurlah dua hari setelah transfer, dicek ke dokter paman sudah sembuh total.
Terima kasih Ya Allah, telah mengaruniakan kami kesembuhan dan kelancaran rezeki. Matur nuwun Paguyuban Tri Tunggal Cabang Semarang. Anak-anak kami pun sekarang menjadi nge-fans Paguyuban Tri Tunggal dan setiap acara siaran di TV maupun radio selalu mengikuti dan menyediakan air putih untuk sarana kesembuhan. (*)

ERWINA SAVIRA MARTHA(34)
ANANTA GRANDA NUGROHO (37)
Parasamya Timur E /66 Ungaran
085225600333

Jantung Sehat Setelah Diterapi

Di dada sebelah kiri saya sering terasa nyeri yang tembus hingga ke punggung. Hasil laborat menunjukkan kolesterol tinggi. Diagnosa dokter ada masalah dengan jantung saya. Pengobatan Medis sudah saya jalani tapi hasil yang saya harapkan kurang maksimal. Saya harus minum obat kimiawi, yang saya yakin akan membawa efek ke ginjal dan organ dalam yang lain. Saya pun berinisiatif untuk datang ke Paguyuban Tri Tunggal Cabang Semarang sebab kebaikan para penerapi serta keberhasilan penyembuhan di sana sudah sering saya dengar. Karena itu dengan keyakinan saya datang ke Paguyuban Tri Tunggal. Syukurlah rasa nyeri hilang. Terima kasih Paguyuban Tri Tunggal. (*)
TRI ASTUTI (44)
Jomblang Perbalan 811 Semarang
(024) 8452874