
Kisah Yusuf Mantan Pecandu Narkoba Selamat dari Kematian
DIVONIS DOKTER, HARAPAN HIDUP TINGGAL 5 PERSEN
Apa yang dialami oleh Yusuf (27) yang tinggal di Jl. Adisucipto Bantulan DP II 169 Janti Depok Sleman ini sungguh merupakan suatu keajaiban dari sang pencipta. Betapa tidak, hingga kini ia masih diberi kesempatan menikmati hidup di dunia, padahal dokter telah memvonis hidupnya hanya tinggal 5 persen saja. Inilah secuil kisah pengalaman itu.
“Penderitaanku berawal dari kesalahan yang tidak bisa menjaga diri sendiri dan salah dalam pergaulan, hingga pada akhirnya menyeretku ke dalam lembah hitam. Di usia yang waktu itu baru 17 tahun, aku bergaul dengan teman-teman yang nongkrong di pinggir-pinggir jalan. Mereka kemudian memberiku minuman keras dan memaksaku untuk turut meminumnya. Hanya karena tidak enak dengan teman, akhirnya aku pun menuruti permintaan mereka dengan meneguk segelas minuman keras itu.
Pada tahun 1998 aku mulai mengenal narkoba dan mencoba memakainya, walau hanya kelas ringan seperti pil koplo, ganja, dll. Memang kuakui, setiap memakai barang-barang tersebut, aku merasa enak, enjoy, nge-fly, nyaman dan hidup terasa indah sehingga aku menjadi ketagihan untuk terus memakainya.
Makin lama, aku mulai mudah mendapatkan barang haram yang bisa dikatakan kelas tinggi seperti sabu-sabu, heroin, putaw, dll. Berbagai jenis pun mulai kucoba dan pada akhirnya kebiasaan itu membuatku menjadi seorang pecandu narkoba. Ketika itu aku benar-benar merasakan nikmatnya surga duniawi. Hingga tak terasa 6 tahun sudah aku menjadi seorang pecandu.
Sebelumnya, tak terpikir bahwa kebiasaan burukku itu akan dapat merusak seluruh jiwa ragaku dan aku pun tidak menyadari bahwa semua itu akan berakibat fatal. Yang kurasakan saat itu adalah aku merasa menjadi manusia hebat, yang sebenarnya hal itu adalah pengaruh dari narkoba yang kukonsumsi saja. Selama memakai narkoba, banyak pengalaman pahit yang aku dapatkan dan sampai sekarang pun masih terbayang-bayang jelas dalam ingatan yaitu ketika banyak dari teman akrabku yang meninggal karena overdosis.
Saat itu aku benar-benar merasa kehilangan akan tetapi hal itu justru membuat kecintaanku terhadap narkoba semakin erat. Ketika sehari tidak mengkonsumsi narkoba, aku justru merasa sesuatu yang sangat berarti hilang dalam hidupku. Pada tahun 2002, ketergantunganku terhadap narkoba semakin menjadi. Sehari saja tidak mengkonsumsi, tubuh langsung terasa lemas dan malas, membaca tidak konsentrasi dan aku merasa perubahan dari pribadi, sikap dan cara berpikirku. Pada tahun 2003, ternyata aku kembali kehilangan kekasih (yang juga pemakai heroin), yang kemudian disusul meninggalnya seorang teman dekat yang juga karena overdosis. Baru aku sadar, ternyata obat-obatan itu sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawaku kapan saja. Akupun mulai sadar akan kecerobohanku selama ini dan timbul niat untuk meninggalkan dunia hitam yang selama ini kujalani karena gara-gara narkoba, hubunganku dengan keluarga terutama orang tua dan teman menjadi renggang. Bahkan aku pun merasa jauh, amat jauh dari Tuhan. Namun rupanya untuk keluar dari dunia hitam itu bukanlah hal yang mudah karena aku sudah sangat ketergantungan dengan narkoba.
Hingga pada akhirnya, di tahun 2004, tepatnya bulan Juni – Juli, aku jatuh sakit. Kejadian itu berawal ketika aku main di tempat temanku. Sekitar pukul 06.45, aku datang ke rumah salah seorang teman dan di sana kami bermaksud memakai heroin yang aku bawa. Setelah menikmati heroin itu, kami bercanda dan tertawa. Namun tiba-tiba aku merasa tubuhku melemah dan tidak berdaya.
Baru pada pukul 15.00 aku memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah aku kembali memakai heroin. Saat itu aku langsung panas dingin. Nafas pendek dan didera rasa ketakutan yang begitu hebat. Beruntung saat itu, Ibu masuk ke kamar. Mengetahui kondisiku yang pucat pasi, ibu langsung membawaku ke rumah sakit.
Tiada pilihan lain aku harus opname. Hingga sebulan lamanya. Sewaktu opname aku selalu muntah-muntah. Badan menggigil kedinginan. Bahkan 3 – 5 selimut tak mampu menghilangkan rasa dingin di tubuhku. Dokter mengatakan bahwa aku menderita leukosit (kelainan pada darah), sepsis juga liver. Kepada keluarga, dokter kembali mengatakan jika harapan hidupku hanya tinggal sepenggal. Tinggal lima persen. Hal itu juga diperkuat dengan meninggalnya 4 pasien dengan penyakit yang sama, yang juga dirawat satu ruangan denganku.
Benar adanya, penyesalan selalu datang terlambat. Aku baru sadar aku telah merusak diri sendiri dan masa depanku. Tapi apa mau dikata, aku pun hanya bisa pasrah dengan apa yang menanti esok hati. Kematian!
Entah apa yang dipikirkan ibu, esok harinya ibu datang ke rumah sakit dengan membawakan masakan daging bulus. Ibu berkata bahwa masakan ini dari Romo Sapto. Tanpa pikir panjang dan tanpa banyak pertanyaan, langsung kusantap habis daging bulus itu. Sejak itu, badan terasa segar dan enak. Kecemasanku hilang. Dalam tempo dua hari sejak itu aku diperbolehkan pulang. Dalam hati aku bertanya, apakah ajal ku sudah dekat sehingga pihak rumah sakit memulangkan aku?
Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Dari hari ke hari badanku makin bugar. Kesakitan di seluruh jaringan tubuhku lenyap. Lantas baru aku ingat, kondisi ku membaik setelah memakan daging bulus dari Romo Sapto. Aku pun mulai bertanya-tanya, siapa Romo Sapto? Akhirnya aku dapat informasi, bahwa Romo Sapto adalah Satguru Paguyuban Tri Tunggal. Dan menurut cerita ibu, tanpa sepengetahuanku sebelumnya ibu datang ke Paguyuban Tri Tunggal dan dengan selembar fotoku dilakukan transfer penyakit ke kambing oleh Kangmas Jeje.
Setelah kondisiku normal lagi, aku datang ke Paguyuban Tri Tunggal untuk bersilaturahmi dan tentunya mengucapkan terima kasih. Di Paguyuban Tri Tunggal aku bertemu dengan Kangmas Jeje, salah satu orang kepercayaan Romo Sapto yang mumpuni.
Sejak itu, aku insyaf dan sadar ternyata Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Pengampun. Dalam hati timbul niatan untuk kembali ke jalan yang benar. Maka saya pasrahkan diri mengabdi pada masyarakat dengan bergabung dengan Paguyuban Tri Tunggal. Terima kasih Satguru Romo Sapto, Kangmas Jeje dan keluarga besar Payuban Tri Tunggal. Apabila para pembaca ingin mendengar langsung kebenaran pengalaman pahit masa laluku, silahkan menghubungiku di 085868383666. (*)
DIVONIS DOKTER, HARAPAN HIDUP TINGGAL 5 PERSEN
Apa yang dialami oleh Yusuf (27) yang tinggal di Jl. Adisucipto Bantulan DP II 169 Janti Depok Sleman ini sungguh merupakan suatu keajaiban dari sang pencipta. Betapa tidak, hingga kini ia masih diberi kesempatan menikmati hidup di dunia, padahal dokter telah memvonis hidupnya hanya tinggal 5 persen saja. Inilah secuil kisah pengalaman itu.
“Penderitaanku berawal dari kesalahan yang tidak bisa menjaga diri sendiri dan salah dalam pergaulan, hingga pada akhirnya menyeretku ke dalam lembah hitam. Di usia yang waktu itu baru 17 tahun, aku bergaul dengan teman-teman yang nongkrong di pinggir-pinggir jalan. Mereka kemudian memberiku minuman keras dan memaksaku untuk turut meminumnya. Hanya karena tidak enak dengan teman, akhirnya aku pun menuruti permintaan mereka dengan meneguk segelas minuman keras itu.
Pada tahun 1998 aku mulai mengenal narkoba dan mencoba memakainya, walau hanya kelas ringan seperti pil koplo, ganja, dll. Memang kuakui, setiap memakai barang-barang tersebut, aku merasa enak, enjoy, nge-fly, nyaman dan hidup terasa indah sehingga aku menjadi ketagihan untuk terus memakainya.
Makin lama, aku mulai mudah mendapatkan barang haram yang bisa dikatakan kelas tinggi seperti sabu-sabu, heroin, putaw, dll. Berbagai jenis pun mulai kucoba dan pada akhirnya kebiasaan itu membuatku menjadi seorang pecandu narkoba. Ketika itu aku benar-benar merasakan nikmatnya surga duniawi. Hingga tak terasa 6 tahun sudah aku menjadi seorang pecandu.
Sebelumnya, tak terpikir bahwa kebiasaan burukku itu akan dapat merusak seluruh jiwa ragaku dan aku pun tidak menyadari bahwa semua itu akan berakibat fatal. Yang kurasakan saat itu adalah aku merasa menjadi manusia hebat, yang sebenarnya hal itu adalah pengaruh dari narkoba yang kukonsumsi saja. Selama memakai narkoba, banyak pengalaman pahit yang aku dapatkan dan sampai sekarang pun masih terbayang-bayang jelas dalam ingatan yaitu ketika banyak dari teman akrabku yang meninggal karena overdosis.
Saat itu aku benar-benar merasa kehilangan akan tetapi hal itu justru membuat kecintaanku terhadap narkoba semakin erat. Ketika sehari tidak mengkonsumsi narkoba, aku justru merasa sesuatu yang sangat berarti hilang dalam hidupku. Pada tahun 2002, ketergantunganku terhadap narkoba semakin menjadi. Sehari saja tidak mengkonsumsi, tubuh langsung terasa lemas dan malas, membaca tidak konsentrasi dan aku merasa perubahan dari pribadi, sikap dan cara berpikirku. Pada tahun 2003, ternyata aku kembali kehilangan kekasih (yang juga pemakai heroin), yang kemudian disusul meninggalnya seorang teman dekat yang juga karena overdosis. Baru aku sadar, ternyata obat-obatan itu sangat berbahaya dan bisa merenggut nyawaku kapan saja. Akupun mulai sadar akan kecerobohanku selama ini dan timbul niat untuk meninggalkan dunia hitam yang selama ini kujalani karena gara-gara narkoba, hubunganku dengan keluarga terutama orang tua dan teman menjadi renggang. Bahkan aku pun merasa jauh, amat jauh dari Tuhan. Namun rupanya untuk keluar dari dunia hitam itu bukanlah hal yang mudah karena aku sudah sangat ketergantungan dengan narkoba.
Hingga pada akhirnya, di tahun 2004, tepatnya bulan Juni – Juli, aku jatuh sakit. Kejadian itu berawal ketika aku main di tempat temanku. Sekitar pukul 06.45, aku datang ke rumah salah seorang teman dan di sana kami bermaksud memakai heroin yang aku bawa. Setelah menikmati heroin itu, kami bercanda dan tertawa. Namun tiba-tiba aku merasa tubuhku melemah dan tidak berdaya.
Baru pada pukul 15.00 aku memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah aku kembali memakai heroin. Saat itu aku langsung panas dingin. Nafas pendek dan didera rasa ketakutan yang begitu hebat. Beruntung saat itu, Ibu masuk ke kamar. Mengetahui kondisiku yang pucat pasi, ibu langsung membawaku ke rumah sakit.
Tiada pilihan lain aku harus opname. Hingga sebulan lamanya. Sewaktu opname aku selalu muntah-muntah. Badan menggigil kedinginan. Bahkan 3 – 5 selimut tak mampu menghilangkan rasa dingin di tubuhku. Dokter mengatakan bahwa aku menderita leukosit (kelainan pada darah), sepsis juga liver. Kepada keluarga, dokter kembali mengatakan jika harapan hidupku hanya tinggal sepenggal. Tinggal lima persen. Hal itu juga diperkuat dengan meninggalnya 4 pasien dengan penyakit yang sama, yang juga dirawat satu ruangan denganku.
Benar adanya, penyesalan selalu datang terlambat. Aku baru sadar aku telah merusak diri sendiri dan masa depanku. Tapi apa mau dikata, aku pun hanya bisa pasrah dengan apa yang menanti esok hati. Kematian!
Entah apa yang dipikirkan ibu, esok harinya ibu datang ke rumah sakit dengan membawakan masakan daging bulus. Ibu berkata bahwa masakan ini dari Romo Sapto. Tanpa pikir panjang dan tanpa banyak pertanyaan, langsung kusantap habis daging bulus itu. Sejak itu, badan terasa segar dan enak. Kecemasanku hilang. Dalam tempo dua hari sejak itu aku diperbolehkan pulang. Dalam hati aku bertanya, apakah ajal ku sudah dekat sehingga pihak rumah sakit memulangkan aku?
Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Dari hari ke hari badanku makin bugar. Kesakitan di seluruh jaringan tubuhku lenyap. Lantas baru aku ingat, kondisi ku membaik setelah memakan daging bulus dari Romo Sapto. Aku pun mulai bertanya-tanya, siapa Romo Sapto? Akhirnya aku dapat informasi, bahwa Romo Sapto adalah Satguru Paguyuban Tri Tunggal. Dan menurut cerita ibu, tanpa sepengetahuanku sebelumnya ibu datang ke Paguyuban Tri Tunggal dan dengan selembar fotoku dilakukan transfer penyakit ke kambing oleh Kangmas Jeje.
Setelah kondisiku normal lagi, aku datang ke Paguyuban Tri Tunggal untuk bersilaturahmi dan tentunya mengucapkan terima kasih. Di Paguyuban Tri Tunggal aku bertemu dengan Kangmas Jeje, salah satu orang kepercayaan Romo Sapto yang mumpuni.
Sejak itu, aku insyaf dan sadar ternyata Tuhan Maha Pengasih lagi Maha Pengampun. Dalam hati timbul niatan untuk kembali ke jalan yang benar. Maka saya pasrahkan diri mengabdi pada masyarakat dengan bergabung dengan Paguyuban Tri Tunggal. Terima kasih Satguru Romo Sapto, Kangmas Jeje dan keluarga besar Payuban Tri Tunggal. Apabila para pembaca ingin mendengar langsung kebenaran pengalaman pahit masa laluku, silahkan menghubungiku di 085868383666. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar